jquery floating menu
 Hai

Senin, 12 September 2011 - 17:25:33 WIB
ITB Kampus Jatinangor: Jurusan Pertanian ITB?
Kategori: Pertanian - Dibaca: 200 kali

Dulu suka jadi bahan seloroh di kalangan teman-teman di SMA, “kuliah di pertanian ITB atau peternakan ITB”. Bagi yang cerdas boleh jadi ketawa terpingkal-pingkal, karena hal itu mustahil, karena ITB tidak menggarap ilmu-ilmu berkaitan dengan biologi (kecuali Jurusan Biologi/FMIPA dan Farmasi).  Dengan kata lain, ITB lebih diperuntukkan bagi siswa-siswi yang mengambil Jurusan Fisika di SMA-nya.  Sementara siswa Jurusan Biologi terapan banyak mengambil Jurusan di Unpad atau IPB.

Dulu masing-masing perguruan tinggi menggarap bidang spesalisasinya.  Di Bandung, ITB menggarap ilmu teknik, Unpad menggarap ilmu-ilmu humaniora dan biologis, UPI di bidang pendidikan atau IAIN konsens di bidang agama.  Seiring dengan dinamika yang makin pesat dan tuntutan zaman bersaing ketat, banyak Institut yang awalnya konsens dengan bidangnya, demi bersaing di era globalisasi, banyak banting stir mengubah diri menjadi Universitas.   Di Bandung, IKIP Bandung dan IAIN SGD bermetamorfosa menjadi UPI Bandung dan UIN SGD.  Sementara ITB yang didirikan sejak tahun 1920 tetap istikomah dalam Institut.

Tetapi jangan kaget bila kini ITB merambah bakal menggarap bidang pertanian.  Hal ini semakin mendekati kenyataan pasca ekspansi kampus yang memiliki ikon “Gajah Duduk” (Ganesa) mengelola bekas Unwim di Jatinangor.   Pembangunan pun sudah dimulai.  Begitu pun plang berbau ITB sudah mulai dipampang di Jatinangor.    Kampus ITB di Jatinangor sesuai kesepakatan dicapai, rencananya ITB kampus Jatinangor bakal menempati lahan dan gedung bekas Universitas Winayamukti.

Rencananya ITB akan mengembangkan sejumlah teknologi pascapanen dalam rangka memberi kontribusi terhadap sektor pertanian di Indonesia.  Setidaknya hal ini terlontar   oleh Rektor ITB, Prof. Akhmaloka seperti dikutip dari “PR” (5/9) yang rencananya mulai tahun 2012-2013, ITB akan  membuka dan menerima mahasiswa baru untuk tujuh sampai delapan program studi baru di Kampus ini.  Selain jenjang S1, jenjang S2 juga bakal dibuka di sini.

ITB akan lebih konsen pada teknologi pascapanen, sedangkan  untuk budidaya pertanian (peternakan, perikanan, agroindustri) tetap UNPAD dan IPB Bogor menggarapnya.

Sebagai orang awam, saya berharap penanganan pascapanen ini dapat memberi kontribusi pada negri agraris, khususnya para petani.   Minimal tak ada suara sumbang, peternak susu membuang produknya karena tak diterima KUD karena kelebihan produk atau  standar tidak memadai.  Tak ada lagi, produk pertanian seperti tomat, melon atau jeruk  busuk gara-gara kendala transportasi, karena tak ada teknologi memadai dalam hal mengawetkan atau mengubah menjadi produk lain berdaya guna.  Atau petani jaring apung menimbun ribuan ton ikan mati, karena ketiadaan teknologi memadai memanfaatkan ke dalam bentuk lain.  Tak ada lagi tangisan dan air mata petani ini ……

Dengan teknologi pula, ulah oknum pedagang nakal suka memberi  formalin, rhodamin, atau borak tak dijumpai lagi, karena telah ditemukan teknologi praktis, ekonomis, sehat dan halal, dalam memberi flavour, lebih awet, lebih segar dan menarik, dan masyarakat tidak was-was lagi mengkonsumsinya.

Dengan teknologi, negri agraris ini bakal memiliki ketahanan pangan yang tangguh, dan pelaku utamanya yakni petani, peternak dan nelayan di dalamnya sebagai pilar utama semoga cepat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran.  ***

http://edukasi.kompasiana.com/2011/09/08/itb-kampus-jatinangor-jurusan-pertanian-itb/

  



3 Komentar :

Siregar
13 September 2011 - 11:26:38 WIB

Dalam penulisan artikel seharusnya bisa lebih rinci dan menggunakan sumber yang ditela'ah. Tidak hanya lantas melakukan copy-paste untuk tulisan ringan seperti ini. Selain itu penempatan cetak tebal juga hendaknya memperhatikan makna dari kalimatnya itu sendiri secara keseluruhan, bukan parsial.

Mubarok
13 September 2011 - 15:46:40 WIB

mungkin adminnya masih baru belajar mas siregar

Siregar
21 September 2011 - 12:44:26 WIB

Proses pembelajaran bukan alasan yang tepat, banyak sumberdaya manusia yang dapat berkarya di bidang penulisan artikel dalam organisasi ini dan saya yakin akan hal tersebut, namun ketika tidak ada perhatian dari yang memiliki wewenang untuk merangkul dan memberikan kesempatan kepada orang-orang tersebut maka organisasi ini menjadi kehilangan sedikit esensinya dari konsep "ikatan".


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar  
     
   (Masukkan 6 kode diatas)